PENDEKATAN SAVI

PENDAHULUAN

           Belajar merupakan proses yang aktif yaitu proses mereaksi terhadap semua situasi di sekitar siswa. Mengajar merupakan suatu aktivitas mengatur dan mengorganisasi lingkungan sehingga mendorong siswa untuk belajar. Dua istilah “belajar-mengajar” menurut Dewey tidak dapat dipisahkan. Dewey dalam Sanjaya (2007:102) mengistilahkannya sebagai “Teaching is to Learning as Selling is to Buying”. Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi ke kepala seorang siswa. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan pelajar itu sendiri (Silberman, 2002:XXI). Pengembangan potensi-potensi siswa dalam proses belajar, harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu (Aunurrohman, 4:2009). Pengembangan potensi siswa secara tidak seimbang dapat menjadikan pendidikan cenderung lebih peduli pada pengembangan satu aspek kepribadian tertentu, bersifat partikular dan parsial. Persoalan yang sering muncul dalam pembelajaran adalah bagaimana cara seorang guru mengembangkan, menciptakan serta mengatur situasi yang memungkinkan siswa melakukan proses belajar.

          Oleh karena itu perlu upaya untuk menyeimbangkan peran antara guru dan siswa dengan cara menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa dan memberikan peluang kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Killen (1998) dalam Sanjaya (2007:125) mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered approaches). Juliantara (2009) menjelaskan bahwa jika ditinjau dari segi penyampaian materi, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru dalam pelaksanaanya lebih sering menggunakan pemberian informasi (telling), sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa di samping menggunakan pemberian informasi (telling) juga menggunakan peragaan (demonstrating) dan memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung (doing direct performance). Pendekatan pembelajaran inilah yang nantinya mengantarkan guru untuk memilih strategi, metode dan teknik yang akan diterapkan dalam pembelajaran dengan tanpa mengenyampingkan kesesuaian karakteristik materi dan gaya belajar siswa. Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap, mengatur serta mengolah informasi yang ia dapatkan (Deporter dan Hernacki, 2009:112). Masing-masing siswa memiliki tipe gaya belajar yang berbeda-beda, di antaranya tipe pebelajar visual, auditori dan somatis atau yang biasa dikenal dengan kinestetik. Gaya belajar visual atau sering dikenal dengan pengamatan ini merupakan gaya belajar melalui melihat sesuatu, baik melihat tulisan gambar atau diagram, petunjuk serta film dan video. Tipe gaya belajar ini lebih mengedepankan pada penglihatan secara langsung. Gaya belajar auditori adalah belajar dengan lebih mengedepankan indra pendengaran. Pada gaya ini, belajar bisa dilakukan dengan mendengarkan kaset, ceramah, diskusi, debat dan instruksi verbal. Gaya belajar somatis atau kinestetik merupakan gaya belajar yang lebih mengedepankan pada keterlibatan siswa secara langsung dengan melibatkan aktivitas fisik dan gerakan tubuh seperti suka menari, bergerak, menyentuh, merasakan, dan melakukan sendiri. Aunurrahman (2009:9) berpendapat bahwa penempatan guru sebagai satu-satunya sumber informasi, menempatkan siswa tidak sebagai individu yang dinamis akan tetapi lebih sebagai obyek yang pasif, sehingga potensi keindividualannya tidak dapat berkembang secara optimal. Padahal, tujuan pembelajaran adalah untuk mencerdaskan dan memberdayakan siswa. Menurut Tilaar (2000:21) siswa yang berdaya adalah siswa yang dapat berpikir kreatif, mandiri, dapat membangun dirinya dan masyarakatnya kelak. Menurut Dimyati dan Mujiono (2002:17) “Dominan guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa terlibat secara pasif“. Mereka lebih banyak menunggu sajian dari guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan dalam pembelajaran yang lebih mengarahkan pada kegiatan siswa supaya siswa tidak lagi dipandang sebagai obyek pegajaran melainkan dipandang sebagai subyek yang aktif. Joyce dkk (2009:7), mendefinisikan bahwa guru yang sukses merupakan guru yang dapat melibatkan para siswanya dalam tugas-tugas yang sarat muatan kognitif dan sosial serta mengajarkan mereka bagaimana cara mengerjakan tugas-tugas tersebut secara produktif. Sederhananya, guru yang sukses bukan sekedar penyaji yang kharismatik dan persuasif, akan tetapi senantiasa mengajari siswanya bagaimana menyerap dan menguasai informasi yang berasal dari penjelasannya, sedangkan pelajar efektif mampu menggambarkan informasi dan gagasan dari guru mereka. Uraian di atas menggambarkan bahwa di antara kedua pendekatan pembelajaran tersebut, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa inilah (student-centered approaches) yang lebih memberdayakan siswa dan memberikan peluang kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Suyatno (2008) mengemukakan bahwa menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat melibatkan siswa sepenuhnya dalam pembelajaran sehingga berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Joyce dkk, (2009:4) mengemukakan bahwa cara penerapan suatu pembelajaran akan berpengaruh besar terhadap kemampuan siswa dalam mendidik diri mereka sendiri. Kesesuain perlakuan yang didapat dalam sebuah pembelajaran dengan gaya belajar siswa akan lebih meningkatkan minat dan hasil belajar dalam pembelajaran tersebut. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan juga dapat mengakomodir semua tipe gaya belajar adalah pendekatan SAVI.

PEMBAHASAN

              Pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar harus memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran di kelas adalah dengan menggunakan pendekatan SAVI (Somatic, Auditory, Visualization, Intelectualy).

               Somatuic adalah gerakan tubuh, yang berarti bahwa belajar harus dengan mengalami dan melakukan. Auditory adalah pendengaran, yang berarti bahwa indra telinga digunakan dalam proses pembelajaran dengan cara mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menaggapi. Visualization adalah penglihatan, yang berarti bahwa belajar harus menggunakan mata melalui mengamatai, menggambar, melukis, mendemonstrasikan media pembelajaran dan alat peraga. Intelectualy adalah berpikir, yang berarti bahwa kemampuan berpikir harus dilatih melalui bernalar, mencipta,memecahkan masalah, mengkontruksi, dan menerapkan. (Suherman, 2006). Penjabaran keempat unsur menurut Suherman (2002: 52) adalah sebagai berikut:
a. Belajar Somatik
Somatik berasal dari kata Yunani yang berarti tubuh. Jadi belajar somatik adalah belajar melalui keterlibatan fisik terutama indra peraba, selama pembelajaran berlangsung. Dalam belajar somatik siswa dapat melakukansesuatu secara fisik dari waktu yang membuat seluruh tubuh terlibat, memperbaiki sirkulasi ke otak, dan meningkatkan pembelajaran. Jadi belajar somatik adalah belajar dengan bergerak dan berbuat.
b. Belajar Auditori
Belajar auditori merupakan belajar dengan berbicara dan mendengarkan. Pikiran auditori lebih kuat dari pada yang kita sadari. Kita membuat suara sendiri dengan berbicara, maka beberapa area penting pada otak kita menjadi aktif. Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam diri siswa, carilah cara untuk mengajak mereka membicarakan apa yang sedang dipelajari.
c. Belajar Visual
Belajar visual merupakan belajar dengan mengamati dan menggambarkan. Visual mencangkup melihat, menciptakan, dan mengintegrasikan segala macam citra. Dalam otak lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain. Pada belajar visual siswa belajar dengan melihat contoh pada dunia nyata, diagram, dan gambaran dari segala macam hal ketika sedang belajar.
d. Belajar Intelektual
Intelektual adalah bagian dari perenungan (tafakur), mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna. Kata Intelektual menunjukan apa yang dilakukan siswa dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan keceredasan untuk merenungkan suatu pengalamandan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Jadi belajar intelektual yaitu belajar dengan memecahkan masalah dan merenung.
Menurut Suherman (2002: 52), dengan memperhatikan konsep belajar SAVI, siswa mempunyai kesempatan untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar sehingga dengan menggunakan pendekatan SAVI diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kreativitas pembelajaran akan berlangsung secara optimal jika aktivitas intelektual dan semua alat indra digabungkan dalam suatu kinerja pembelajaran.

KESIMPULAN

             Pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar harus memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa.   Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam suatu peristiwa pembelajaran. Pembelajar dapat meningkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah (Intelektual) jika mereka secara simultan menggerakan sesuatu (Somatis) untuk menghasilkan piktogram atau pajangan tiga dimensi (Visual) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (Auditori).

DAFTAR PUSTAKA

http://www.contoh-kti.info/pendekatan-savi-somatic-auditory-visualization-intelectualy/

http://roebyarto.multiply.com/journal/item/21

http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/penerapan-pendekatan-savi-untuk-meningkatkan-hasil-belajar-siswa-pada-mata-pelajaran-faroidh-kelas-viii-di-mts-nurul-amanah-madura

http://mbahnur.wordpress.com/2010/02/17/pendekatan-savi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s